NYC – Day 2

You know what time we woke up on our second day? Jam 5 pagi. Kalo gue ngantor aja bangunnya juga ga sepagi itu. Kita kena jetlag abis-abisan.

Pengalaman tidur di Pod 39 untuk pertama kalinya: cozy and quiet. Gw sama sekali ga denger suara berisik. Ruangannya kedap banget and the bed sheets were so clean and nice.

Setelah beres-beres, kita cabut dari hotel untuk nyari breakfast. Tepatnya, datengin tempat breakfast yang udah kita rencanain sebelumnya. Itu sebuah kios kecil yang jualan bagels dan kopi segala macem, namanya Bagel Express.

Pas kita dateng, pegawainya masih pada beler karena kita beneran masuk 5 menit setelah mereka buka.

2 eggs, bacon, home made fries and toast for $5. Taste was sort of ‘whatever as long as I have something to eat and it’s cheap’, or in other words, very average.

Ilona pesen yang sama, cuma bedanya pake bagel and it cost the same. BUT the thing is, she didn’t get her bagels 😅.

Anyways, moving on from breakie, kita bingung mau ngapain lagi. Jam 2 siang kita bakal nonton musical Phantom of the Opera, jadi males juga kalo ngabisin waktu sebelumnya pergi jauh-jauh. So what we did was, we walked up to Bryant Park. Bryant Park ini taman kecil di tengah kota dan begitu ke sana gue langsung naksir berat.

A little sanctuary in the urban jungle
Tamannya bersih banget, bangku-bangku dan meja-mejanya terawat semua dan tamannya dikelilingin skyscrapers. Terus, di sana juga ngga ada gembel atau orang ngeganja atau sejenisnya, ngga seperti kebanyakan taman yang ada di Jerman 🙊. Kalo gue kerja di NYC, gue pasti bakal sering banget ngunjungin Bryant Park.

Abis dari Bryant Park, kita jalan kaki ke Times Square lagi. Pertama gue kira, kalo siang lampu-lampu papan reklamenya semua bakal dimatiin, ngga taunya nyala 24 jam…

Orang Jerman bakal sebel liatnya

Kita akhirnya jalan terus ngelewatin block demi block hingga the next thing we knew, kita udah di Central Park! Padahal Central Park rencananya bakal kita kunjungi di hari lain. But since we were there to kill time, why not stroll around a bit?

Batu-batu yang ada di salah satu scene film Extremely Loud and Incredibly Close
I would say, it’s one of the best times of my life. Duduk-duduk, ngeliat pemandangan, cuacanya cerah tapi hawanya adem. Dan sekali lagi yang amazing, ga ada orang ‘aneh-aneh’ di sana.

Sekitar jam 11.30 kita jalan balik ke arah Times Square. Gue bilang sama Ilona, gue ngga mau tau, gue mau makan siang dari Biryani Cart. Jadi, sebagai penggemar makanan India, adalah kewajiban buat gue nyobain Biryani Cart, food truck yang masuk-masuk food blogs dan di-review sebagai makanan hits di New York. Kita beli buat dibungkus dan dimakan di Bryant Park.

One hot tikka massala rice cost about 6 USD and it was like so good I couldn’t stop eating.

061
Ini food trucknya. We were one of the first few customers

062
The great chicken tikka massala rice that got me going nuts
Bumbu Indianya berasa, pedesnya nendang banget, daging ayamnya juga empuk banget dan sausnya enak banget dimakan pake salad. Gue sampe bilang sama Ilona, kayaknya kalo sempet, sometime in the next couple of days kita harus balik lagi ke sini. And she said, “Lo gila?”. She ordered chicken biryani rice yang rasanya menurut dia dan gue kurang oke, compared to my juicy tikka massala. Abis makan siang, kita masih nongkrong di Bryant Park dan memutuskan untuk beli wafel dari Wafels and Dinges yang lokasinya juga di Bryant Park.

Gue rada lupa kita pesen apa aja, but I think it was one drink and one wafel with one scoop of chocolate ice cream. It cost 14 USD.

Gue lumayan kaget. 14 USD?! Gini doang 12 Euro? Hmm. It better be good. Rasanya sih oke lah, tapi di Jerman gue masih nemu wafel yang rasanya lebih enak dan harganya lebih murah. Tapi buat dessert setelah kepedesan makan Biryani Cart, I guess it’s fine. Cuma kalo disuruh beli lagi sih gue males, kemahalan heheh.

Anyway, afterwards kita mulai pelan-pelan jalan ke Majestic Theatre where the show was going to be. Masuk ke sana harus melalui security check dan sampe di dalem isinya rame banget.

We spent 210 USD for a ticket to Phantom of the Opera. Seat was perfectly centered in the front mezzaine and I could see the entire stage and faces clearly.

063
Where the show at

064
The stage sebelum mulai
To be very honest, gue bukan penggemar musical. To be even more honest, gue cuma ngerti garis besar dari jalan ceritanya hahaha… tapi untuk orang awam yang clueless seperti gue, special effects dari shownya sih keren banget. Propertiesnya juga dan overall it was a cool experience to be sitting and watching musical at Broadway.

Setelah dari Broadway, gue dan Ilona naik subway untuk pertama kalinya menuju Hunters Point South/Long Island City di Queens. Itu adalah promenade di mana kita bisa ngeliat Manhattan Skyline dari sisi Mid-Manhattan.

Gue kaget banget pas pertama kali masuk subway station sebab di sana rame, PENGAP dan JOROK. Beda banget sama subway station Jerman apalagi Hong Kong dan Singapur gitu. Terus juga menurut gue arah-arahnya suka ngga jelas. Setelah beberapa kali naik subway, gue juga baru sadar ada yang namanya express dan yang biasa aja. Yang express ini nge-skip beberapa stasiun gitu untuk tujuan yang sama kayak normal, jadi lebih cepet.

137
New York subway, you seriously needs some make over
Sesampainya di promenade Hunters Point South, gue langsung cengo sama pemandangan di sana. Surga banget buat yang punya skyscraper obsession kayak gue sebab di situ pemandangan Manhattan skyline-nya stunningly beautiful. I just sat and stared and observed each building in peace.

084
Who wouldn’t stop and stare?
As I was admiring the view, I was also busy dreaming about what life would be like to be living there, di salah satu apartemen yang ngadep langsung ke Manhattan skyline. Hehehe… ngarep aja. Kita duduk-duduk di pinggiran sungai sampai matahari terbenam dan pemandangan saat dusk itu juga ngga kalah stunning.

076
Almost dusk

079
As the sun went down
Abis itu kira-kira jam 6an sore, kita naik kapal ferry seharga 6 USD untuk nyebrang balik ke Manhattan. Gue seneng dan puas banget sama pemandangan yang super duper bagus dan bikin susah move on ini.

Sekembalinya di Manhattan, Ilona dan gue jalan kaki menuju Xi’An Famous yang terkenal dengan Chinese lamian-nya. Secara itu restoran heboh banget di food blogs yang gue baca-baca, kita pun penasaran dan pengen tau kayak apa makanan di sana, dengan harapan bakminya bakal seenak bakmi Chinese ala-ala Indo.

083

I’m terribly, terribly sorry but it was one of the most aweful food I have had in my entire life! But the Chrysanthemum tea and one friendly Chinese dude who served us deserved an award.

We closed the day afterwards secara udah teler banget karena bangun dari jam 5 pagi. Balik ke hotel semua udah bersih dan rapi lagi, new supply of toilet papers and shower gels. Andai di Jerman hidup pun kayak gini huhuhu…

Anyways, that was all for day 2. Stay tuned for day 3!

-Feli-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s