Makassar-Tj. Bira

Saat nya pulang ke tanah air, kali ini saya bertekad harus ke pantai. Setelah diskusi beberapa option (Derawan, Komodo, dsb) akhirnya saya pasrah dan nurut saja sama ibu tourguide aka sepupu yang lebih sering melanglang buana di kepulauan Indonesia, dan memutuskan untuk ke Makassar-Tj. Bira

Day 1

Bangun subuh demi mengejar pesawat paling pagi memang perjuangan. Setiba di bandara Hassanudin, pemandangan nya kurang lebih sama dengan bandara di kota-kota lain di Indonesia, penuh dengan sopir yang menawarkan tumpangan. Untung nya kita sudah book dari Jakarta.

Dari Bandara ke pusat kota Makassar butuh waktu sekitar 40 menit lewat jalan tol, dan agak sedikit macet. Di kota kita jemput teman yang memang asli orang Makassar untuk sekilas wisata kuliner.

Pangsit Mie Palu, Jl. Sangir No.31

Sebagai penggemar bakmie, langsung kita request mie yang terkenal di Makassar Pangsit Mie Palu. Bakmie nya home made dengan pangsit dan terutama babi garing-bahasa sini babi tore- nya mantap sekali. Kriuk nya pas dan tidak alot. Pesan porsi kecil saja kayak nya sudah banyak dan kenyang!

Lalu kita lanjut dengan belanja oleh-oleh di toko Cahaya, yang khas disini markisa-merek Citra, dan selai kaya- merek sumber timur. Selain itu minyak tawon juga terkenal, tapi harga nya lumayan mahal 300k.

Expire date nya hanya 3 bulan
Selain itu Makassar juga terkenal kopi nya. Kita mampir di salah satu kopitiam, dan pesen kopi item, susu plus jahe. Bukan ide baik rupa nya, alhasil perut mengamuk mungkin karena gak biasa.

Hati-hati waktu mau nuangin susu, kaleng susu nya super panas
Masih belum puas keliling kota Makassar, kita lanjut ke 2 spot lagi.

  • Pantai Losari: gak disarankan, hanya pantai dekat dengan port.
  • Fort Rotterdam: juga menurut kita buang waktu, mirip gedung arsip di Jakarta.

Fort Rotterdam
Pantai Losari
Satu perhentian lagi sebelum lanjut ke Tj.Bira, kurang lengkap ke Makassar kalau belum cicipin Konro. Ternyata konro asli nya sup, selama ini saya tahu nya cuman bakar.


Danging konro nya lembut, gampang lepas dari tulang sama kuah yang kaya kaldu, luar biasa.

Saat nya melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bira. Kondisi jalan relatif bagus, jika saya bandingkan dengan mis. Kalimantan. Ada beberapa spot macet dan jalan rusak, tapi selebih nya mulus. Setiap beberapa kilometer ada tempat isi bensin plus toilet. Memasuki kawasan Tj. Bira ada gerbang penerima, dan biaya tiket per orang 10,000 dan mobil. Tiket sebaiknya disimpan, karena kalau misal nya mau belanja di indomaret yang pas di luar gerbang, tiket bisa di pakai lagi tidak usah beli baru.

Hasil browsing website seperti booking.com dan agoda membawa kita ke BaraCoco Bungalows, dengan rating tinggi dan harga terjangkau, serta lokasi yang tepat depan pantai.
Tiba di penginapan langsung kita disambut ramah sama Mr. Jan si pemilik penginapan. Penginapan sederhana terdiri dari beberapa cottage, tapi sayang tidak semua cottage menghadap ke laut, karena kita sudah book dari jauh hari jadi untung nya kita bisa dapat yang menghadap laut.

Sayang nya kita tiba sudah sore pkl 18.30 WITA, badan udah tepar karena siap-siap dari jam 02.00 WIB , jadi kita tutup hari ini dengan makan Indomie goreng dan nasi goreng dari penginapan, lalu bersantai di hammock sambil mendengar kan suara ombak , jangkrik dan tokek sebagai bonus.

Pesawat Lionair PP JKT-Makassar                1.2 jt
Hotel Baracoco per malam plus sarapan   490.000 per cottage (1 cottage kamar single bed, ranjang queen size)
Mobil dan supir termasuk bensin               700.000
Makan per porsi                                                30-60 ribu

Cottage kita yang paling kiri, menurut saya paling enak, tidak terlalu dekat dengan resepsionis, dan langsung hadep laut. Pilih nomer 3!

Day 2

Ombak tenang, cuaca bagus, hari yang pas buat snorkling. Setelah sarapan sederhana dengan toast, jus buah dan pancake, kita minta tolong Mr. Jan untuk panggil kapal.

Sewa kapal 350ribu, kebetulan ada orang Jakarta lain yang menginap disana, jadi kita share kapal dan biaya.

Kapal si kapiten!
Pengalaman snorkling saya tidak banyak, hanya bisa membandingkan dengan Bunaken, Manado. Menurut saya terumbu karang di Bunaken lebih berwarna dan beraneka ragam, tapi enak nya di Tanjung Bira sepi dari turis  dan lebih murah.

Overall bisa dikatakan cukup oke, laut bersih dan jernih, hanya kita berempat saja berenang disitu.

Acara di tutup dengan makan ikan bakar di pulau pilihan pak kapiten. Habis itu kita balik ke pantai di penginapan, leha-leha seharian di hammock dan kursi pinggir pantai plus kelapa dan lagi-lagi indomie.

I think every house should have a hammock!
Day 3

Mengejar pesawat pkl 17.00, kita bangun lebih pagi dan di jemput pak supir pkl 8.00 untuk balik menuju Makassar.


Gak mau rugi kuliner Makassar, begitu sampai mampir makan siang Pallubasa Serigala, makanan berkuah sapi, bisa diisi dengan jeroan plus optional kuning telur mentah. Rasa nya luar biasa, kuah nya wangi, daging nya empuk, porsi nya agak kecil kita sampai minta extra kuah. Wajib makan disini!


Spare waktu lebih untuk perjalanan ke bandara Hassanudin, banyak spot macet di jalan, Makassar lumayan padat seperti Jakarta. Kita butuh waktu 1 jam an sampai bandara.

Overall and Recommendation

Makassar ternyata banyak makanan enak, saya saranin spend 1 malam di Makassar supaya bisa lebih banyak mencicipi makanan.

Jadi berangkat subuh dari Jakarta, langsung jalan ke Tanjung Bira biar bisa lebih lama di pantai, hari ke 3 balik ke Makassar dan stay satu hari disana, lalu hari ke 4 balik ke Jakarta.


Kita puas banget sama penginapan Baracoco, tempat dan lokasi nya bagus, bersih toilet nya. Tapi sayang nya pantai nya umum. Kalau bisa jangan bermalam disana hari Sabtu, karena banyak warga lokal yang buat tenda persis di depan pantai. Agak tidak nyaman dan jadi kotor. Ideal nya kamis-jumat di tj. bira, sabtu-minggu di Makassar.

Lokasi bisa di telusuri dengan Google map dan banyak petunjuk arah dari sejak masuk gerbang Tj. Bira. Jangan kaget sepanjang jalan sempit ke arah hotel banyak rumah-rumah singgah yang menawarkan “jasa” ala red district. Tapi Baracoco letak nya lumayan ujung jadi cukup terisolasi.

Makanan agak terbatas pilihan nya, di bawah hotel di pinggir pantai ada beberapa warung, tapi sebagian besar tutup ( mungkin tidak high season atau bukan pas weekend, waktu berkunjung kita 9-11 Maret 2017). Air minum bisa di beli di penginapan atau di Indomaret sebelum gerbang masuk.Tj. Bira kita rekomendasikan buat travelers yang cari tempat tenang, jauh dari keramain dan travelers lain nya, pasir putih dan ombak tenang, dan harga terjangkau. Selain snorkling, ada juga paket diving, tapi sayang nya kita tidak cari tahu lebih lanjut.

img_2440
Warung-warung ini ada di sisi kanan penginapan, mungkin ada untungnya juga tutup, jadi sepi, tapi pilihan tempat makan juga jadi terbatas. Well walau pun saya rasa makanan yang ditawarkan kurang lebi sama.. kelapa, indomie, snack..
Sekian laporan “singkat” saya, saran dan pertanyaan travelers kita tunggu, dan paling penting jalan yoks!

-Chun-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s