Colmar

Anybody knows Colmar? Bahkan mungkin yang tinggal di Eropa sendiri pun ngga tentu familiar dengan nama kota yang satu ini. Colmar adalah sebuah kota super kecil di Perancis, berbatasan dengan Freiburg im Bresgau, Jerman. One day trip kali ini gw kembali pergi sama Ilona, tepatnya 25 November 2016. Tujuan kita ke sini cuma satu: Weihnachtsmarkt alias Christmas Market.

We got a bus return ticket from Freiburg to Colmar for 8 EUR. The trip took 1.5 hours from Freiburg.

Sesampainya di Colmar, kita cuma perlu jalan dikit dan udah tiba di salah satu titik Xmas marketnya. Ada sekitar 4-5 titik di pusat kota di mana mereka membangun Xmas market.





Christmas market di Colmar ngejual barang-barang yang umumnya dijual di pasar Natal Eropa, mulai dari kue-kue, cokelat, roti, keju, wine, pajangan-pajangan dan hiasan-hiasan boten, sampe yang ngga nyambung seperti sabun batangan.





Dari situ kita lanjut ke satu tempat yang ngga jauh (15 menit jalan kaki) bernama Le Petit Venice. Artinya little Venice. Disebut begitu karena ada satu kanal sungai kecil yang kanan kirinya ada rumah-rumah, jadi mirip di Venice.




Sejam berlalu dan sambil nunggu bus pulang, kita minum Glühwine di salah satu stand. Rasanya? Enakan di Jerman.

Conclusion

Colmar ini betul-betul kota kecil yang asli, ngga ada apa-apanya. Tapi Christmas market di sini menang bagus dan suasananya Eropa banget. Pas gw pergi banyak polisi bersenjata yang ngamanin sekitaran pusat kota. Kalo lagi di daerah selatan Jerman atau tenggara Perancis macam Strasbourg, atau utara Swiss macam Basel pas lagi mendekati Natal, boleh lah mampir ke Colmar. Dari Freiburg selalu ada bus reguler 2 jam sekali ke Colmar dengan harga tiket 8 EUR pp. Pasar Natal ini kalo ngga salah dibuka sebulan, dari sekitar 24 Nov sampe 23 Dec. 

Sekian laporan singkat gw tentang one day trip ke Christmas market in Colmar. Stay tuned for next travel series on jalan yoks!

– Feli –

NYC – Day 6, 7 and 8

Kenapa gw gabungin hari 6, 7 dan 8 dalam satu post? Karena sebenernya, NYC itu bisa dijelajah cuma dalam 5 hari. The rest 3 days ini we didn’t do much touristy actually.

Day 6

Dibuka dengan bangun pagi lagi, tapi kali ini sekitar 6:30. Udah mulai ngga jetlag lagi. First stop kita hari itu adalah Coney Island. Coney Island ini ada pantainya, promenade dan ada theme park gitu juga namanya Luna Park. Sering ada kok di film-film. Tapi acara yang paling gw inget nayangin Coney Island adalah The Amazing Race season 21 kalo ga salah, yg ada James and Jaymes. Perjalanan ke Coney Island sendiri mayan jauh, sekitar 1 jam lebih naik kereta sampe end station. Sempet ganti dari Grand Central, kalo ga salah ganti di City Hall.

Clear, sunny beach
By the beach
Dermaga di Coney Island

Gw udah lama banget ga ke pantai, 10 tahun ada kali, so it was an interesting experience for me. Biasanya pantai itu rame banget tapi hari itu sepi banget, mungkin karena weekday, cuma ada 2-3 orang yang lewat-lewat selain kita.

Coney Island ini tempat asal-usul Nathan’s Hotdog yang bikin kontes makan hotdog regularly. Di sana kita makan siang.

We had one slushie, 2 hot dogs and 1 fries. We spent 27 USD altogether. But seriously, Nathan is totally overrated. I wouldn’t ever come back there again.

Abis itu kita mau ke Luna Park tapi kayak mager dan panas banget, juga masih kenyang. So we just sat on a bench inside the park and watched people play. Jadi kita bisa masuk theme parknya tanpa karcis. Ntar kalo mau naek ride baru beli pake token. Modelnya more like kayak pasar malam gitu sih sebenernya.


Setelah bosen di Coney Island, kita balik ke Manhattan buat nyobain Eileen’s Cheesecake.

One piece was about 4 USD. It was, as expected, too sweet. 

Menurut gw si Eileen’s Cheesecake ini biasa aja sih. Masih enakan cheesecake bikinin kolega gw dulu di kantor 🤔

Abis itu gw ama Ilona pisah. Gw ke Strand Bookstore yang ada di sekitaran Union Square dan beli buku di sana. Tokonya asik banget. Banyak jualan buku yang lebih murah dari biasanya. Kayaknya karena itu buku-buku bekas dan/atau buku-buku yang kualitasnya secara fisik kurang memadai. Tapi buat yang suka baca n hunting buku, gw rekomen ke sini.


Dari Strand, gw ke Madison Square Garden buat nyari kaos New York Knicks buat abang gw. Pas itu lagi ada game-nya Rangers, jadi barang-barang Knicks dikit banget gitu yang dijual. 


Oh, MSG ini keren banget sih, kayak gedung kantoran gitu, lengkap sama securitynya. Sayangnya kita cuma boleh berkeliaran di ground floor yang isinya cuma ticket booth sama fan article store. Untuk ke lantai-lantai atas, harus punya/beli tiket game. WC aja kaga ada di lantai dasar ini. Alhasil gw nahanin pipis sampe numpang di New York Public Library.


Terus, sorenya gw mau makan Ippudo sama Ilona di sekitaran Times Square. Tapi jam 17:30, tanpa reservasi sebelumnya, Ippudo ramenya udah kayak pasar. Karena Ilona mau nonton Broadway lagi jam 18, kita pun kepepet dan akhirnya makan chipotle di Chipotle Mexican Grill yang outletnya ada di mana-mana itu. 

We had one chipotle each and it cost us no more than 5 USD!!! And the taste was so awesome, I started to regret the things I had for lunch and dinner in the last few days.

Setelah makan, Ilona ke Broadway dan gw jalan-jalan di 5th Avenue. Belanja-belanja dikit di sana, banyak outlets mulai dari yang branded such as Prada, Chanel and stuffs sampe normal outlets like Zara, Uniqlo, H&M and Hollister. Harga-harganya sedikit lebih murah daripada di Jerman, cuma keep in mind kita mesti bayar credit card fees juga kalo belanja pake CC. Ujung-ujungnya ya murahan dikit dari Jerman, ampir sama actually. 

Day 7

Agenda kita hari ini adalah ke American Museum of Natural History. Mestinya gw excited ya, tapi secara bangun tidur gw tiba-tiba sakit leher dan pilek berat, I dragged my feet down to the subway abis beli obat di drug store. 

Museum itu jauh banget, adanya di Upper Manhattan dan kita sort of ketiduran di subway pagi itu sampe kebawa ke perbatasan Harlem sama Bronx. After spending almost 2 hours getting lost and stuffs, nyampe juga kita di museum.

We spent 30 USD for an adult ticket, including IMAX special show, which at that time was about polar bears. We slept throught the whole documentary, sorry 🙊.


Museumnya sendiri keren lho, terdiri dari life size diorama tentang hewan dari setiap benua. Jadi mereka showcasenya per benua. Bukan cuma hewan, ada juga life size diorama tentang manusia dari berbagai benua. Sama kayak yang di film Night at the Museum. Bahkan waktu masuk bagian Southeast Asia and Oceania, ada musik gamelan Jawa dimaenin lewat speaker di ruangan itu. Dan yang paling rame tentunya bagian extinct animals yang isinya banyak life size kerangka dinosaurus.

I was so extremely pooped out, abis dari museum gw cuma pengen makan dan pulang. So we went to Lombardi.

We had a pizza each and spent 50 USD total. I cannot comment much because I had no appetite at that time!

Idung gw yg udah meler and so on, I just wanted to go back and sleep. Which I did till 18:30 where I had to drag my ass out buat ke Rockefeller Center. Masalahnya gw udah beli tiket dan udah lebih dari 12 jam masa cancel tiket, jadi mau ga mau gw ke sana. 

Top of the Rock – kinda hazy

Supposed to be a cool experience but I had a bad flu, it was windy and rained a bit and so foggy, I only spent 15 minutes.

Ticket price was 32 USD. Actually it would have been a super cool experience, had it not been a foggy, rain day and had I not had such a messy cold. I would go back there on any given clear, sunny, healthy day.

Baliknya gw takeaway ramen dari Norikoh yang deket hotel. Surprisingly rasanya enak lho.

15 USD for a bowl of ramen, not bad. The taste was also nice, comparable to those in Germany.

Abis itu gw tepar di hotel 😴

Day 8

Our last day in New York! Terus terang, udah mulai bosen hehe. Dari pagi ujan gede, jadi gw di hotel doang beresin barang. Siangnya gw makan Chinese food di Hunan Manor deket hotel. 

We ordered mapo tofu and stir fried beef with veggies for almost 40 USD. They tasted so good, even for my stuffy nose.

Then we went to Starbucks for a bit before checking out. Jam 3 sore kita udah cabut ke JFK padahal flight masih jam 8, saking ga tau mau ngapain lagi!

We had buffalo wings at the airport for 30 USD before taking off from New York.

See you some other time, New York! It was definitely a memorable place to be!

Conclusion

New York is definitely a must-visit at least once in your life. NYC ini beda dari kota-kota besar lainnya. Dia punya aura sendiri, vibe sendiri, suasananya sendiri yang menarik. It’s a city of bright lights and skyscrapers which represent industrialization and advancements in human civilization and technology. For me, vibe-wise it is the best city I have ever visited so far.

Makanannya sendiri menurut gw semua antara biasa aja dan ga enak. I have to sadly admit that the food in Germany is much better. Jangan harap terlalu banyak dari rekomendasi food bloggers, sebab rasanya overrated banget. Malah yang selama ini gw cobain enak adalah makanan-makanan yang spontan dibeli tanpa cek rating dari food bloggers.

Transportation is confusing but the fact that the subways come like every minute so we don’t have to wait, menurut gw udah amazing compared to in Germany. Cuma seperti kata Fauzi dari The Smart Local, “New Yorkers, your subway seriously needs some cleaning!” And of course, please do something to your stupid card reader which happened to ALWAYS show the ‘please swipe again’ message everytime I swiped.

Cuaca, nah pas gw dateng mestinya udah musim gugur tapi somehow terjadi anomali di mana panas banget dan cerah kayak summer. Bersyukur banget cuacanya bagus selama gw di sana, cuma hari terakhir aja hujan. Otherwise it would have sucked karena kita banyak jalan kaki dan hujan di sana ngga gerimis kayak di Jerman but more like hujan di Indo yang gede-gede.

All and all, I would love to go there once again, just sitting around Bryant Park or walking up and down Mid-Manhattan on a clear, sunny day.

Thanks for reading the New York travel series. Sekian laporan #throwback gw mengenai trip gw di bulan Oktober. Semoga bermanfaat dan jalan yoks!

– Feli –

And since I made it here, I can make it anywhere…

Makassar-Tj. Bira

Saat nya pulang ke tanah air, kali ini saya bertekad harus ke pantai. Setelah diskusi beberapa option (Derawan, Komodo, dsb) akhirnya saya pasrah dan nurut saja sama ibu tourguide aka sepupu yang lebih sering melanglang buana di kepulauan Indonesia, dan memutuskan untuk ke Makassar-Tj. Bira

Day 1

Bangun subuh demi mengejar pesawat paling pagi memang perjuangan. Setiba di bandara Hassanudin, pemandangan nya kurang lebih sama dengan bandara di kota-kota lain di Indonesia, penuh dengan sopir yang menawarkan tumpangan. Untung nya kita sudah book dari Jakarta.

Dari Bandara ke pusat kota Makassar butuh waktu sekitar 40 menit lewat jalan tol, dan agak sedikit macet. Di kota kita jemput teman yang memang asli orang Makassar untuk sekilas wisata kuliner.

Pangsit Mie Palu, Jl. Sangir No.31

Sebagai penggemar bakmie, langsung kita request mie yang terkenal di Makassar Pangsit Mie Palu. Bakmie nya home made dengan pangsit dan terutama babi garing-bahasa sini babi tore- nya mantap sekali. Kriuk nya pas dan tidak alot. Pesan porsi kecil saja kayak nya sudah banyak dan kenyang!

Lalu kita lanjut dengan belanja oleh-oleh di toko Cahaya, yang khas disini markisa-merek Citra, dan selai kaya- merek sumber timur. Selain itu minyak tawon juga terkenal, tapi harga nya lumayan mahal 300k.

Expire date nya hanya 3 bulan
Selain itu Makassar juga terkenal kopi nya. Kita mampir di salah satu kopitiam, dan pesen kopi item, susu plus jahe. Bukan ide baik rupa nya, alhasil perut mengamuk mungkin karena gak biasa.

Hati-hati waktu mau nuangin susu, kaleng susu nya super panas
Masih belum puas keliling kota Makassar, kita lanjut ke 2 spot lagi.

  • Pantai Losari: gak disarankan, hanya pantai dekat dengan port.
  • Fort Rotterdam: juga menurut kita buang waktu, mirip gedung arsip di Jakarta.

Fort Rotterdam
Pantai Losari
Satu perhentian lagi sebelum lanjut ke Tj.Bira, kurang lengkap ke Makassar kalau belum cicipin Konro. Ternyata konro asli nya sup, selama ini saya tahu nya cuman bakar.


Danging konro nya lembut, gampang lepas dari tulang sama kuah yang kaya kaldu, luar biasa.

Saat nya melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bira. Kondisi jalan relatif bagus, jika saya bandingkan dengan mis. Kalimantan. Ada beberapa spot macet dan jalan rusak, tapi selebih nya mulus. Setiap beberapa kilometer ada tempat isi bensin plus toilet. Memasuki kawasan Tj. Bira ada gerbang penerima, dan biaya tiket per orang 10,000 dan mobil. Tiket sebaiknya disimpan, karena kalau misal nya mau belanja di indomaret yang pas di luar gerbang, tiket bisa di pakai lagi tidak usah beli baru.

Hasil browsing website seperti booking.com dan agoda membawa kita ke BaraCoco Bungalows, dengan rating tinggi dan harga terjangkau, serta lokasi yang tepat depan pantai.
Tiba di penginapan langsung kita disambut ramah sama Mr. Jan si pemilik penginapan. Penginapan sederhana terdiri dari beberapa cottage, tapi sayang tidak semua cottage menghadap ke laut, karena kita sudah book dari jauh hari jadi untung nya kita bisa dapat yang menghadap laut.

Sayang nya kita tiba sudah sore pkl 18.30 WITA, badan udah tepar karena siap-siap dari jam 02.00 WIB , jadi kita tutup hari ini dengan makan Indomie goreng dan nasi goreng dari penginapan, lalu bersantai di hammock sambil mendengar kan suara ombak , jangkrik dan tokek sebagai bonus.

Pesawat Lionair PP JKT-Makassar                1.2 jt
Hotel Baracoco per malam plus sarapan   490.000 per cottage (1 cottage kamar single bed, ranjang queen size)
Mobil dan supir termasuk bensin               700.000
Makan per porsi                                                30-60 ribu

Cottage kita yang paling kiri, menurut saya paling enak, tidak terlalu dekat dengan resepsionis, dan langsung hadep laut. Pilih nomer 3!

Day 2

Ombak tenang, cuaca bagus, hari yang pas buat snorkling. Setelah sarapan sederhana dengan toast, jus buah dan pancake, kita minta tolong Mr. Jan untuk panggil kapal.

Sewa kapal 350ribu, kebetulan ada orang Jakarta lain yang menginap disana, jadi kita share kapal dan biaya.

Kapal si kapiten!
Pengalaman snorkling saya tidak banyak, hanya bisa membandingkan dengan Bunaken, Manado. Menurut saya terumbu karang di Bunaken lebih berwarna dan beraneka ragam, tapi enak nya di Tanjung Bira sepi dari turis  dan lebih murah.

Overall bisa dikatakan cukup oke, laut bersih dan jernih, hanya kita berempat saja berenang disitu.

Acara di tutup dengan makan ikan bakar di pulau pilihan pak kapiten. Habis itu kita balik ke pantai di penginapan, leha-leha seharian di hammock dan kursi pinggir pantai plus kelapa dan lagi-lagi indomie.

I think every house should have a hammock!
Day 3

Mengejar pesawat pkl 17.00, kita bangun lebih pagi dan di jemput pak supir pkl 8.00 untuk balik menuju Makassar.


Gak mau rugi kuliner Makassar, begitu sampai mampir makan siang Pallubasa Serigala, makanan berkuah sapi, bisa diisi dengan jeroan plus optional kuning telur mentah. Rasa nya luar biasa, kuah nya wangi, daging nya empuk, porsi nya agak kecil kita sampai minta extra kuah. Wajib makan disini!


Spare waktu lebih untuk perjalanan ke bandara Hassanudin, banyak spot macet di jalan, Makassar lumayan padat seperti Jakarta. Kita butuh waktu 1 jam an sampai bandara.

Overall and Recommendation

Makassar ternyata banyak makanan enak, saya saranin spend 1 malam di Makassar supaya bisa lebih banyak mencicipi makanan.

Jadi berangkat subuh dari Jakarta, langsung jalan ke Tanjung Bira biar bisa lebih lama di pantai, hari ke 3 balik ke Makassar dan stay satu hari disana, lalu hari ke 4 balik ke Jakarta.


Kita puas banget sama penginapan Baracoco, tempat dan lokasi nya bagus, bersih toilet nya. Tapi sayang nya pantai nya umum. Kalau bisa jangan bermalam disana hari Sabtu, karena banyak warga lokal yang buat tenda persis di depan pantai. Agak tidak nyaman dan jadi kotor. Ideal nya kamis-jumat di tj. bira, sabtu-minggu di Makassar.

Lokasi bisa di telusuri dengan Google map dan banyak petunjuk arah dari sejak masuk gerbang Tj. Bira. Jangan kaget sepanjang jalan sempit ke arah hotel banyak rumah-rumah singgah yang menawarkan “jasa” ala red district. Tapi Baracoco letak nya lumayan ujung jadi cukup terisolasi.

Makanan agak terbatas pilihan nya, di bawah hotel di pinggir pantai ada beberapa warung, tapi sebagian besar tutup ( mungkin tidak high season atau bukan pas weekend, waktu berkunjung kita 9-11 Maret 2017). Air minum bisa di beli di penginapan atau di Indomaret sebelum gerbang masuk.Tj. Bira kita rekomendasikan buat travelers yang cari tempat tenang, jauh dari keramain dan travelers lain nya, pasir putih dan ombak tenang, dan harga terjangkau. Selain snorkling, ada juga paket diving, tapi sayang nya kita tidak cari tahu lebih lanjut.

img_2440
Warung-warung ini ada di sisi kanan penginapan, mungkin ada untungnya juga tutup, jadi sepi, tapi pilihan tempat makan juga jadi terbatas. Well walau pun saya rasa makanan yang ditawarkan kurang lebi sama.. kelapa, indomie, snack..
Sekian laporan “singkat” saya, saran dan pertanyaan travelers kita tunggu, dan paling penting jalan yoks!

-Chun-

NYC – Day 5

Day 5! Kita masih rada-rada jetlag, masih bangun kepagian (jam 6!) tapi ngga masalah. Soalnya hari ini kita bakal ke One WTC untuk naik ke observatorynya di lantai 101! Wah gile, ini yang udah gue tunggu-tunggu sejak dateng ke New York! Sebelum berangkat, kita mampir dulu ke Zucker’s Bagels and Smoked Fish yang ada di deket hotel, tepatnya deket Grand Central Station.

I had Nova Scotia garlic bagels for abour 10 USD. Worth every penny spent on it! Absolutely recommended.

Gila porsinya man… porsi prajurit! Tuh bagels gede banget, tebel, sangat amat padat dan rasanya gila enak parahhh… garlicnya itu kayak roasted garlic gitu rasanya, trus ikannya juga berasa smoky, dan dipakein cream cheese jadi tambah enak. Wah, kalo gue kerja di deket situ, gue bakal sering beli lunch di sana kayaknya. Then we headed to One WTC.

Anyways, ke One WTC itu turunnya di City Hall lagi. Pas masuk gedung, tas kita dicek semua pake x-ray scanner kayak di bandara. Kita ngelewatin metal detector juga. Terus dibatasin setiap kloter yang masuk dan naik lift. Mungkin awalnya bingung, tinggal naik lift doang kenapa juga ada kuotanya? Bukan masalah liftnya overweight, itu juga nenek-nenek gayung tau. Tapi ada alasan lain.

Tickets are sold at 34 USD for adults and you can buy it online or on the spot. The also rent a guide tab for 15 USD on the spot.

Saat naik lift, dinding-dinding liftnya itu berubah jadi time elapse kota New York. Jadi kita ngga berasa lagi naik ke lantai 101. Btw liftnya juga cepet kok. Bener-bener ngga berasa, tau-tau udah nyampe. Pas lift berhenti, kita keluar di lantai yang ada tiang-tiang cegatan antrian. Kita disuruh baris miring di situ ngadep ke tembok.

Gue pikir, wah bakal ada slide lagi. Ternyata bener, dinding-dinding itu berubah jadi layar time elapse lagi, nunjukkin lebih detil perkembangan kota New York sampe sekarang, sampe gedung One WTC ini jadi. Lalu… di ujung narasi tiba-tiba narator bilang, “…and welcome to New York City”, dan tiba-tiba dinding-dinding itu naik ke atas dan kita ditunjukkin full kaca-kaca jendela dan pemandangan New York dari lantai 101!!!! Gilaaaaa itu wow-effectnya ratingnya 10/10 deh! Sadisssss, keren banget! Orang Amrik emang jago bikin segala sesuatu yang keliatan heboh.

From the 101st floor

Overlooking Brooklyn and Manhattan Bridge
Setelah itu kita dibawa ke satu lantai di atasnya. Di situ baru observatory benerannya. Jadi ruangan indoor gede banget dan kita bisa ngeliat New York 360 derajat. Ada juga guide tab yang disewain 15 USD untuk cari tau, apa landmark yang sekarang lagi kita liat. Lumayan kok, buat tau-tau sejarah New York. Gue tertariknya sama sejarah pulau-pulau kecil seperti Roosevelt Island dan Ellis Island. Di tab itu dikasih tau sejarahnya. Ada juga seorang pekerja museum yang ngejelasin tiap-tiap borough New York. Pokoknya One WTC Observatory itu wajib banget lah dikunjungin kalo ke New York.

Abis dari itu, kita ke Battery Park untuk naik Staten Island Ferry buat ngeliat Statue of Liberty. Ferry ini gratis karena bagian dari public transportation New York. Buat yang mau foto jarak deket sama Statue of Liberty sih ngga bisa naik ferry ini, kudu naik ferry tour yang kalo ga salah bayar 15 USD, karena ferry gratisan ini cuma bisa ngeliat Statue of Liberty dari jarak super jauh, cuma keliatan titik biru dan kudu ngezoom iPhone 6S sampe pol baru bisa ngejepret tuh patung.

This is what happens when you refuse to pay for commercial ferry

img_5948
Lower Manhattan from Staten Ferry Island ride

But I did enjoy the ferry ride. Sambil makanin juhi dari Korean supermarket kemarin hahaha… enjoying the breeze, sunny weather dan sambil menerka-nerka, apakah bangunan-bangunan spooky yang ada di beberapa pulau kecil yang kita lewatin itu merupakan bekas asylum yang disebut-sebut di guide tab One WTC. Setelah selesai keliling pake ferry, kita balik ke Manhattan dan pergi ke Upper Manhattan untuk makan Halal Guys.

We had chicken gyros rice for 7 USD and it’s as good as what people say. At last!

Buat penggemar makanan-makanan Timur Tengah, Asia Selatan dan sekitarnya, gue recommend banget Biryani Cart sama Halal Guys ini. Dan si Halal Guys banyak cabang gitu. Di Times Square juga ada, ngga mesti naik jauh-jauh sampe blok 50an yang deket bagian atas Central Park. Abis dari Halal Guys kita ke Central Park.

Central Park, first take

Sunset in Central Park
Central Park is HUGE. Kita ngelewatin Jacqueline Kennedy Reservoir yang gedenya ngga kira-kira, Belvedere Castle, Bow Bridge, Strawberry Fields Memorial, Bestheda Fountain, dan akhirnya kita mutusin untuk nyobain boating di satu danau, gue lupa apa namanya.

I’m not sure if this is the reservoir, but this is part of Central Park

We rent a boat for 15 USD per hour.

Sumpah, SERU BANGET! Awalnya itu perahu lumayan susah dikendaliin, but once you know how to do it, it was nothing but fun. And once again, New York parks amaze me karena super bersih dan ngga ada orang-orang ngga jelas. Barangkali karena ada mobil polisi patroli juga kali ya untuk ngecek keadaan.

Boating through Bow Bridge

Boating on the lake
Walau Central Park salah satu icon New York City, tapi menurut gue ngga juga wajib pergi ke sana. It’s a park. Jadi ya kalo udah ngga tau mau ngapain lagi dan cuma mau duduk-duduk atau jalan-jalan santai saat cuaca bagus, boleh ke sini. Otherwise you can skip it altogether kalo waktunya mepet.

HONY kind of shot

The big stones during dusk
Kira-kira jam 6 sore, udah mulai gelap dan kita mulai laper. So we tried to figure our way out of Central Park and good luck with that! Kita nyaris nyasar di dalam Central Park, gila ga sih? Akhirnya nemu juga jalan keluar ke Columbus Circle. Tadinya kita mau jalan kaki DUA PULUHAN BLOCKS hingga ke restoran di Korea Town, tapi baru setengah jalan udah nyerah man. Udah capek banget! Alhasil kita naik bus untuk pertama kalinya di New York.

5th Ave in dusk
Naik bus seru juga. Seperti kendaraan-kendaraan umum lainnya, arahnya rada ngga jelas. Cuma kita pikir udahlah naik aja yang kira-kira mengarah ke Lower Manhattan. Sesampainya di Korean Town, kita makan di restoran namanya Bangia.

We had one huge kimchi-jigae and one huge ttopokki and they cost us 50 USD! It was too much (the price and the size!). Taste was good, but it’s nothing we couldn’t find in Düsseldorf.

OMG… mahalnya gileeee! Di Düsseldorf gue bisa dapet dua hal itu cuma 20 euro kayaknya. Jauh-jauh ke Amrik makannya Asia-asia juga huahahaha… Honestly, gue lupa kita ngapain abis makan Bangia. Kayaknya cuma ke Tous Les Jours bakery lagi dan beli roti.

Next on this blog: day 6! Udah 5 hari masih aja belom pulang dari New York? Hehehe… iya dong.

-Feli-

NYC – Day 4

Malemnya sebelum tidur, Ilona tiba-tiba bilang gue, mau ngga kita besok pagi balik lagi ke Brooklyn Bridge untuk ngeliat sunrise. Gue bilang, duh kayaknya liat nanti aja deh. Liat bangunnya jam berapa. Eh… ngga taunya kita masih kena serangan jetlag. Jam 5:30 kamar kita udah gaduh. Alhasil jam 6 teng kita mutusin untuk keluar hotel dan jalan ke Brooklyn Bridge, berbekal roti-roti dari Tous Les Jours yang dibeli kemarinnya dari Korean Town.

Pas kita nyampe Brooklyn Bridge, langitnya udah ngga gelap kayak malam tapi matahari masih belum terbit. Dan jembatannya SEPI banget. Cuma ada kayak 1-2 orang yang lagi jogging atau naik sepeda. Kita langsung duduk kayak hobo dengan muka bangun tidur nungguin matahari. How to describe the scenery? It’s like… the view sent a sort of pleasing, memorable vibe, that got me remembering NYC everytime I see sunrise from now on 😌.

 

The lights were still on

It’s about 6:30 in the morning

There’s nobody aound at this hour

The sun went slowly up

New York still waters

Sunrise as seen above Manhattan Bridge

People slowly passing by

The sun was completely up

Good morning, Manhattan
Setelah matahari bener-bener naik, mulai deh orang lalu-lalang semakin banyak. Tapi itu pun juga ngga sebanyak siang kemarinnya. Mereka semua locals, cuma ada 1-2 turis yang foto-foto. Terus kita duduk-duduk sambil makan roti, foto-foto lagi, sebelum lanjut jalan. Oh ya, secara gue pecinta gedung tinggi, gue seneng jalan berjam-jam di jalanan yang dikelilingi skyscrapers.

I had my long 5-hrs walk dari Causeway Bay sampe Tsim Sha Tsui di Hong Kong and 3-hrs walk around Downtown Singapore. Jadi, saat itu pun gue berencana untuk jalan kaki dari sisi Manhattan-nya Brooklyn Bridge sampe ke Times Square, ngelewatin beberapa landmarks-nya NYC seperti New York University, Union Square, Flatiron dan Empire State Building. Untungnya partner in crime gw, Ilona, juga suka jalan kaki.

Kita baru mulai jalan bentar, tiba-tiba kita berdua pengen pipis. Damn, susah banget nyari WC di sana! Pertama, kita ngelewatin daerah Chinatown. Kayaknya sih itu bukan sisi Chinatown yang sering difoto orang-orang, soalnya yang kita lewatin rada-rada kumuh dan jorok. Di sana kita mencoba untuk nyari WC di Starbucks dan hasilnya nihil. Di Starbucks ngga ada WC.

Abis itu kita jalan lagi sesuai rute yang kita rencanain dan kita ngeliat Wendys. WCnya ngga perlu passcode sih, tapi pas ngeliat yang masuk ke WC itu kayak gembel sakaw, dan pintunya NGGA DIKUNCI, lalu ada cewek ngga jelas IKUTAN MASUK, kita berdua langsung ilfeel dan geli. Mending nahanin kencing deh daripada pipis di WC ngga jelas kayak gitu! 🤢

Trus gue bilang Ilona, pipis di NYU aja. Dia masih nanya, emang boleh numpang WC di universitas? Gue dengan sotoynya bilang, “Boleh lah… uni kan terbuka untuk umum, kayak di Jerman aja orang luar bisa keluar masuk seenaknya”. Ya udah, doi pun percaya dan kita kembali nahan pipis sampe ketemu NYU. Setelah gedung utamanya ketemu, gue masuk dengan pedenya. Tiba-tiba gue dipanggil-panggil ama satpam. Pas itu pun gue ngga ngeh, nyelonong terus, sampe si Ilona manggil-manggil gue juga. Ngga taunya SEMUA gedung NYU itu cuma bisa dimasukkin sama yang punya ID dari universitas DAN kita ga boleh numpang ke WC.

Moral of the story: JANGAN SOTOY! 😅 Asli, padahal di Jerman semua universitas itu terbuka untuk umum. Mana ada satpam apalagi pintu buat ngescan ID. Anyways, setelah jalan udah susah gara-gara nahanin pipis, kita nemu WC di McDonalds yang layak untuk dipake.

Gue beli hash browns dan gue lupa harganya berapa. Ya lumayan lah, beli hash browns dapet kode WC hehe.

Setelah ngaso bentar di McD, kita lanjut jalan hingga Union Square. Eh… tepatnya gue lupa ding, apakah kita ke NYU dulu atau Union Square dulu. Liat sendiri di Google Map lah ya heheh… soalnya udah siwer gara-gara sibuk nyariin WC dan nahan pipis. Tapi pas di Union Square kita sempet duduk-duduk sebentar. Jadi Union Square ini tempatnya lumayan hip gitu. Kayak tempat seniman-seniman jalanan berkumpul. Kalo udah siang menjelang sore suka banyak orang-orang yang main catur di sana.

 

 

Union Square on Monday morning
Abis itu kita jalan ke arah Flatiron. Lagi-lagi gue lupa, Flatiron dulu apa Empire State Building dulu yah… kayaknya sih Flatiron dulu. Jadi ini gedung yang arsitekturnya unik banget. Lokasinya deket sama Madison Square Park. Gedungnya kalo dari atas bentuknya kayak setrikaan, segitiga gitu. Makanya namanya FlatIRON barangkali.

 

 

The iconic Flatiron
Sayangnya di sekitaran situ banyak ada gedung yang lagi di renovasi, jadi tiang-tiang konstruksinya rada bikin pemandangan kurang asik. Kita duduk-duduk sebentar ngeliatin jalanan dan lalu-lalang orang. Setelah itu kita lanjut jalan lagi ke arah Greeley Square Park di mana ada jualan empanadas. Nah, empanadas ini modelnya kayak pastel Indo gitu. Gue tapi lupa kita beli rasa apa.

We had 2 empanadas for 4 USD each, the taste was quite good, but for the price, it’s a bit too expensive.

I like this park as well! Greeley Square Park
Kaki udah jontor dan cuaca udah panas banget tapi kita tetep jalan terus hingga nyampe di Empire State Building. Buset deh, di sana dari luar aja udah keliatan turis pada ngantri mau naik ke rooftopnya. Kita ngga masuk, gue cuma foto fasadenya aja. Sejujurnya, gue suka ketuker antara Empire State Building ama Chrysler Building. Soalnya si Chrysler Building bentuknya lebih unik gitu, jadi lebih berasa simbol kota New York gitu.

Since I made it here, I can make it anywhere. Empire State Building
Anyways, setelah lanjut jalan lagi akhirnya kita nyampe di New York Public Library. Kita mutusin untuk masuk. Di pintu masuknya tas kita dicek semua. Di New York bagusnya sering dicek juga sih tiap masuk gedung, jadi yah, seengganya lebih aman kali ya. Atau pengunjung lebih tenang. New York Public Library ini lumayan gede, terdiri dari beberapa ruangan. Tapi sayangnya ga semua ruangan boleh difoto.

The foyer of New York Public Library

New York Public Library facade
Yang paling gue suka adalah satu ruangan bernama Lionel Pincus and Princess Firyal Map Division. Isinya banyak banget atlas!!! Gileee… gue kalo tinggal di New York pasti bakalan sering ke sana, kalo lagi bosen ngebacain atlas-atlas. Ada satu atlas gede banget dari National Geographic, isinya bukan cuma peta tapi juga info per benua mulai dari sumber daya alam tiap-tiap daerah, demografi sampe informasi jenis landscape yang ada.

The study hall
Selain itu juga ada satu study hall yang gede dan grandiose banget. Langit-langitnya aja ada fresco segala. Modelnya kayak study halls di universitas-universitas tua di Inggris gitu deh. Setelah puas di NYPL, kita lanjut jalan ke acara berikutnya. Di luar panasnya bukan main, matahari terik dan beneran kayak summer, gue sampe ngelepas sweatshirt dan cuma pake t-shirt doang. Padahal saat itu mestinya lagi musim gugur.

Perhentian berikutnya adalah Korilla di deket East Village. Nah, East Village ini daerah yang lebih modest di New York City. Kebanyakan di sini rumah tinggal dan banyak restoran, bar dan kafe-kafe yang hip gitu. Di Korilla kita pesen taco fusion. Jadi taco pada umumnya tapi dagingnya ala masakan Korea. Pedesnya gila man!!! Tapi enak banget! Cuma gue rada salah pesen, mestinya ngga usah pake Korean beans, soalnya gue ngga gitu doyan. Tapi si Ilona sih doyan-doyan aja hahaha… yah, selera sih soal itu.

We spent 15 USD for 4 mini tacos and one rice drink. The drink was a bit weird but was okay, and the tacos were awesome!

Abis dari Korilla, kita lanjut ke Crif Dogs, tempat makan hot dog yang menurut food blogs oke punya. Lokasinya lucu gitu, di bawah tanah.

I forgot how much we spent, but we had 2 hot dogs, 1 chilli cheese atter tots and 1 corn dog. Taste was okay for the hot dogs and tater tots but the corn dog was too oily and sort of burnt.

Sayangnya ngga ada foto-foto, abis udah pada kalap. Next we moved on to Joe’s Pizza walau perut rasanya udah mau meledak. Konon katanya sih ini the best pizza in NYC. Di dindingnya aja ada foto-foto sama Selena Gomez dan Bradley Cooper. Kita ngeliat si Joe-nya sendiri juga ikutan bikin pizza di sana.

img_5899
Named as the best pizza in New York City

We tried a slice of pepperoni pizza (or the salami as the Germans call it) for 3.5 USD. It was nice, but we expected something more for “the best pizza in NYC”.

I personally would prefer Pizza Hut over Joe’s, but taste is a subjective matter after all.

Next we went to Momofuku Milk Bar and had Momofuku Milk Soft Serve, sort of creamy and milky ice cream with cereals that looked and tasted like corn flakes. I like it! I think it cost us about 6 USD.

Abis dari situ, kita mau naik subway ke Chelsea Market, soalnya jam 6 kita udah pesen meja buat makan di Budakkan. Tapi that freaking subway, gue lupa dari stasiun apa, pokoknya deket-deket Momofuku di East Village, kalo ngga salah stasiun 3 Av, mesin scan buat tiketnya tuh kayaknya udah tua and butut. Berkali-kali Ilona sama gue swipe kartu kita dan berkali-kali keluar tulisan “Please swipe again”. Oh ya, terutama kartu gue, memang selama naik subway di NYC ga pernah tuh sekali swipe langsung bener. Tapi kali itu kita harus swipe berkali-kali dan gagal berkali-kali sampe kena blokir 👺.

Pergilah kita ke petugas subway yang duduk di kotak informasi. Doi jutek mampus, nyuruh kita nunggu 8 menit hingga kartunya lepas dari blokiran. 8 menit berlalu, kita coba lagi ngga bisa dan malah keblokir lagi! Kita pun naik dulu, mana tangga subwaynya curam bikin bengek. Kita pikir, ya udahlah tunggu 15 menit sambil killing time di drug store terdekat. 15 menit berlalu, kita turun lagi tangga jahanam itu dan tetep aja kartu subway kita ngga bisa dipake!!! Super bete, akhirnya kita cari stasiun subway lain yang harus jalan dikit, kalo ngga salah stasiun 1 Av. Akhirnya bisa juga! Emang dasar rusak aja kali tuh mesin scanner yang udah butut.

Sesampainya di Chelsea Market, kita masih ada waktu untuk jalan-jalan bentar. Chelsea Market ini kayak mall super mini cuma satu lantai. Ada toko buku yang jualan buku-buku yang desainnya keren-keren, ada juga toko permen cokelat, toko roti, dan lain-lain. Menarik banget pokoknya tempatnya.

Cute covers
Budakkan ini sendiri adalah restoran Asian fusion dan yang begonya gue ngga ngecek dulu itu restoran biasa atau fine dining. Ngga taunya itu fine dining maaan… dan kita berdua udah kayak gembel pake bajunya, cuma t-shirt bau keringet bekas jalan seharian di bawah terik matahari, plus kantong kresek berisi snack Korea hasil belanja di supermarket Korea deket tukang empanadas. Omg… malu banget, untung pas itu belum banyak tamu dan suasana restonya remang-remang gitu.

We had chilli crab and sort of garlic chilli chicken. They were both great! Cost us 85 USD (tip included). The service was perfect, the host and server were very friendly!

Shock berat sih sama harganya, tapi kita puas banget sama servis dan makanannya. The chilli crab was a bit different than we expected. The taste was not like the Singaporean one, but it was nice. The meat was chunky and they were prepared such that they were so loose, we only needed to push them out of the shells with chopsticks.

That’s it for day 4 yang bikin kita jontor setengah mati. Day 5 coming next!

-Feli-

NYC – Day 3

It’s Sunday and the temperature continued to rise as if it was summer. Lagi-lagi kita bangun pagi-pagi buta, kali ini jam 5.30. Sebenernya rada menderita juga sih bangun sepagi ini, soalnya kebanyakan tempat breakfast baru buka jam 7 pagi, unless we wanted to rock McDonalds.

Jam 7 teng kita keluar rumah untuk cari makan. Kita mutusin untuk makan di Scotty’s Diner. Ini yang kita tunggu-tunggu banget nih, makan pagi ala-ala Amrik di diner. Ilona dan gue masing-masing pesen satu porsi. Begitu makanannya dateng, jreng jreng jreng… porsinya bikin pusing. Saking banyaknya.

120 - blog
A plate of 2 egg benedicts and I don’t know what, maple syrup, a plate of pancakes and sausages, coffee and hot chocolate and orange juice you don’t see in the frame

The whole breakfast cost us about 28 USD for both for 2 egg benedicts, 4 large pancakes and 2 fat sausages. The portion was extra generous and the taste was good as well.

Gue kekenyangan tapi puas banget pagi itu. Tadinya gue ngga ada gambaran sosis di Amerika tuh kayak gimana, apa kayak Frankfurter-nya Jerman (seperti rata-rata sosis di Indo) atau kayak grobwurst. Menurut gue teksturnya lebih kayak grobwurst, cuma rasanya lebih kayak sosisnya Inggris.

Abis breakfast, rute kita selanjutnya adalah ke 9/11 Memorial. Kita naik subway lumayan jauh sampe ke Lower Manhattan, mungkin sekitar 20 menit. Yah, di Jakarta 20 menit mah ngga ada apa-apanya, tapi di Jerman 20 menit naik subway itu udah lumayan banget jauhnya 😁.

Anyways, kita turun di stasiun namanya City Hall. Di daerah sini ada beberapa gedung pemerintahan yang gaya bangunannya masih ala-ala Eropa dan lumayan grandiose. Selain itu sepanjang jalan dari City Hall menuju 9/11 Memorial kita juga ngelewatin banyak gedung-gedung yang arsitekturnya unik.

123
Pertigaan Foley Square

122
Kalo ngga salah ini gedung United States Court of Appeal for the Second Circuit

124
Woolworth Building yang sayangnya lagi direnovasi sebagian
Oh ya, ada Beekman Tower yang di-design sama Frank Gehry. Ini arsitek yang juga nge-design gedung Der Neue Zollhof di Düsseldorf, Jerman dan Dancing House di Prague, Czech Republic. Makanya desain gedungnya mirip-mirip.

121
8 Spruce Street aka Beekman Tower aka New York by Gehry
Di daerah World Trade Center ada satu stasiun yang baru namanya The Oculus. Nama resminya World Trade Center Station. Keren banget bangunannya. Gue ngeliat itu somehow jadi inget tulang ikan, unik gitu design-nya. Terus dalemnya juga keren banget. Lalu gue belakangan baru sadar, ini kan yang sering banget ada di Instagram!

213
World Trade Center area

126
The Oculus / World Trade Center station

214
Inside the Oculus. Dalemnya banyak toko-toko gitu
Lalu tentunya gue juga stunned sama gedung One WTC yang di dalamnya ada observatory dari lantai 101. More on that later. Pas itu cuacanya bagus, very sunny, dan kaca-kaca gedungnya mantulin sinar matahari. It was very cool.

125
One World Trade Center
Lalu 9/11 Memorial yang merupakan 2 pools dengan man-made waterfall di dalemnya, yang jadi simbol Twin Towers both north and south. Tapi gue agak lupa apakah ini the exact same spot di mana dulunya fondasi Twin Towers berdiri atau bukan, tapi sepertinya iya. Di sana diukir nama-nama korban tragedi 9/11 and because this is the final resting place of all the victims, we should also show some respect when moving around in the area.

127
9/11 Memorial

134
9/11 Memorial

Tadinya kita ngga rencana untuk masuk 9/11 Memorial Museum, tapi setelah mempertimbangkan, akhirnya kita beli tiket untuk masuk.

9/11 Museum ticket price is 24 USD per person. I’d say it’s totally worth the price. The museum is very neatly and interestingly organized and I guess it’s the best museum I have ever visited so far.

129
9/11 Memorial Museum
Di museum itu kita dikasih tau apa yang terjadi di September 11, 2001. Berapa orang yang jadi korban, how the rescue effort was, what happened to those who survived, what impact it had on people and the world. Kita juga bisa ngeliat sisa-sisa dari TKP, salah satunya bagian dari truk pemadam kebakaran New York, bagian dari antena radio salah satu dari Twin Towers dan satu staircase di dekat gedung yang jadi tempat orang-orang berlindung pas kejadian.

133
The Survivors’ Staircase

130
One of the remains from Twin Towers

131
Another remain from Twin Towers
Ada satu ruangan di museum itu yang didedikasikan khusus buat para korban. Di sana ada layar di mana kita bisa milih dan ngeliat profil singkat dari tiap-tiap korban. There was even a box of tissue paper di sana. I honestly couldn’t imagine how the victims’ families could bear going into the museum. It was where the bodies lied and their remains are still burried deep underground.

Ada juga satu ruangan yang tulisannya cuma boleh dimasukkin sama orang-orang di atas 10 tahun. It was definitely heavy stuff there. Banyak foto-foto dari TKP pada saat kejadian. News video clips dari CNN, BBC dan news broadcasters lainnya saat ngelaporin kejadian. Stories of people who lost their loved ones. Stories of people who survived. Voice recordings of final messages. It was heavy, heavy stuff.

132
No day shall erase you from the memory of time
I think everybody gets out of the museum with one common thing: we all hope that something like this would never ever happen again.

Setelah selesai di museum, kita lanjut ke Wall Street. Siapa juga yang ngga tau Wall Street? Sampai sekarang tempat ini masih aktif dan di situ juga bursa efek New York berada. Pas nyampe sana, gue disambut dengan lautan turis dari RRC yang membanjiri daerah Wall Street di hari Minggu. Ternyata Wall Street part of a tourist programme juga ya. Gedung-gedung di daerah situ gaya arsitekturnya masih ala-ala Eropa, jadi gue ngga gitu banyak ngambil foto di sana 😅.

135
Gedung New York Federal Hall

136
Gedung New York Stock Exchange alias bursa efek
Karena udah laper berat, kita ngga jadi nyari di mana Charging Bull dan lanjut jalan ke Brooklyn. Tujuannya sih mau ke Smorgasburg yang setiap hari Sabtu dan Minggu diadain, dan setiap Minggu tepatnya di Prospect Park. Smorgasburg ini sejenis pasar makanan di mana ada lebih dari 70an food truck yang nongkrong dan jualan (kalo ngga salah sih 70an, pokoknya banyak deh).

The thing is, ketika kita ke sana dan saat lagi nyari jalan (tepatnya nyari alamat dulu), gue ngeliat di website Smorgasburg bahwa di weekend itu Smorgasburg GA DISELENGGARAIN! Rasanya mau pingsan dengernya. Saat itu kita udah laper gila-gilaan, udah hampir jam 3 sore juga dan udah kepalang di Brooklyn. Untung kita punya list alternatif lain makan di Brooklyn. Akhirnya kita pergi makan siang di Della Rocco’s Pizza yang lokasinya di deket Brooklyn Heights Promenade, yang memang tujuan kita selanjutnya.

We spent 40 USD for two pans of pizza. The one with marinara sauce was delicious but the one without sauce was pretty weird and not nice.

138 - blog
Red and white pizzas
Abis itu kita jalan ke promenade di Brooklyn untuk ngeliat Manhattan skyline dari sisi Lower Manhattan. Pas di sana cuacanya lagi bagus banget dan ada banyak banget orang, baik turis mau pun lokal, yang foto-foto atau sekedar duduk-duduk di pinggir sungai. The view? Well, kapan sih New York skyline ngga stunning?

140

142

143

I just couldn’t stop taking pictures and enjoying the vibe.

 

Setelah itu kita naik ke Brooklyn Bridge dan sesuai rencana, memutuskan untuk jalan kaki NYEBRANG dari Brooklyn balik lagi ke Manhattan. Seru banget lho jalan di atas jembatan. Jadi jembatannya 2 lapis gitu. Di bawah kita ada mobil dan kereta lewat. Jembatan yang dilalui pejalan kaki sendiri dari kayu. Di sana ada 2 jalur, sepeda dan untuk pejalan kaki. Ramenya minta ampun.

Dari Brooklyn Bridge kita udah tepar dan lengket. Jadi balik dulu ke hotel, bersih-bersih sebelum keluar lagi ke Korea Town. Di sana seru banget, banyak restoran Korea dan ada bakery Korea juga (Tous Les Jours Bakery) yang ngejual roti-roti Asia. Gila man… langsung kalap, serasa masuk Breadtalk.

Each item at Tous Les Jours Bakery costs about 2-3 USD. We spent about 8 USD for 4 items, which I honestly forgot.

Malam itu kita makan Korean BBQ di restoran yang namanya Kunjip. Walau keliatannya super rame dan antriannya panjang, tapi sebetulnya dapet tempat duduk di sana cepet banget.

We spent 85 USD for 2 types of meat. Drinks and side dishes included.

85 USD buat makan berdua sementara di Düsseldorf makan Korean BBQ yang sama di Gogi Matcha cuma abis 30 euro berdua! Ya udahlah… emang dari awal juga pasrah sama biaya hidup New York yang gila-gilaan. Tapi harga segitu udah termasuk tip.

201 - blog
Kunjip dengan nasi merahnya
Well, that was it for our super productive day 3 and more to come on day 4!

-Feli-

 

 

NYC – Day 2

You know what time we woke up on our second day? Jam 5 pagi. Kalo gue ngantor aja bangunnya juga ga sepagi itu. Kita kena jetlag abis-abisan.

Pengalaman tidur di Pod 39 untuk pertama kalinya: cozy and quiet. Gw sama sekali ga denger suara berisik. Ruangannya kedap banget and the bed sheets were so clean and nice.

Setelah beres-beres, kita cabut dari hotel untuk nyari breakfast. Tepatnya, datengin tempat breakfast yang udah kita rencanain sebelumnya. Itu sebuah kios kecil yang jualan bagels dan kopi segala macem, namanya Bagel Express.

Pas kita dateng, pegawainya masih pada beler karena kita beneran masuk 5 menit setelah mereka buka.

2 eggs, bacon, home made fries and toast for $5. Taste was sort of ‘whatever as long as I have something to eat and it’s cheap’, or in other words, very average.

Ilona pesen yang sama, cuma bedanya pake bagel and it cost the same. BUT the thing is, she didn’t get her bagels 😅.

Anyways, moving on from breakie, kita bingung mau ngapain lagi. Jam 2 siang kita bakal nonton musical Phantom of the Opera, jadi males juga kalo ngabisin waktu sebelumnya pergi jauh-jauh. So what we did was, we walked up to Bryant Park. Bryant Park ini taman kecil di tengah kota dan begitu ke sana gue langsung naksir berat.

A little sanctuary in the urban jungle
Tamannya bersih banget, bangku-bangku dan meja-mejanya terawat semua dan tamannya dikelilingin skyscrapers. Terus, di sana juga ngga ada gembel atau orang ngeganja atau sejenisnya, ngga seperti kebanyakan taman yang ada di Jerman 🙊. Kalo gue kerja di NYC, gue pasti bakal sering banget ngunjungin Bryant Park.

Abis dari Bryant Park, kita jalan kaki ke Times Square lagi. Pertama gue kira, kalo siang lampu-lampu papan reklamenya semua bakal dimatiin, ngga taunya nyala 24 jam…

Orang Jerman bakal sebel liatnya

Kita akhirnya jalan terus ngelewatin block demi block hingga the next thing we knew, kita udah di Central Park! Padahal Central Park rencananya bakal kita kunjungi di hari lain. But since we were there to kill time, why not stroll around a bit?

Batu-batu yang ada di salah satu scene film Extremely Loud and Incredibly Close
I would say, it’s one of the best times of my life. Duduk-duduk, ngeliat pemandangan, cuacanya cerah tapi hawanya adem. Dan sekali lagi yang amazing, ga ada orang ‘aneh-aneh’ di sana.

Sekitar jam 11.30 kita jalan balik ke arah Times Square. Gue bilang sama Ilona, gue ngga mau tau, gue mau makan siang dari Biryani Cart. Jadi, sebagai penggemar makanan India, adalah kewajiban buat gue nyobain Biryani Cart, food truck yang masuk-masuk food blogs dan di-review sebagai makanan hits di New York. Kita beli buat dibungkus dan dimakan di Bryant Park.

One hot tikka massala rice cost about 6 USD and it was like so good I couldn’t stop eating.

061
Ini food trucknya. We were one of the first few customers

062
The great chicken tikka massala rice that got me going nuts
Bumbu Indianya berasa, pedesnya nendang banget, daging ayamnya juga empuk banget dan sausnya enak banget dimakan pake salad. Gue sampe bilang sama Ilona, kayaknya kalo sempet, sometime in the next couple of days kita harus balik lagi ke sini. And she said, “Lo gila?”. She ordered chicken biryani rice yang rasanya menurut dia dan gue kurang oke, compared to my juicy tikka massala. Abis makan siang, kita masih nongkrong di Bryant Park dan memutuskan untuk beli wafel dari Wafels and Dinges yang lokasinya juga di Bryant Park.

Gue rada lupa kita pesen apa aja, but I think it was one drink and one wafel with one scoop of chocolate ice cream. It cost 14 USD.

Gue lumayan kaget. 14 USD?! Gini doang 12 Euro? Hmm. It better be good. Rasanya sih oke lah, tapi di Jerman gue masih nemu wafel yang rasanya lebih enak dan harganya lebih murah. Tapi buat dessert setelah kepedesan makan Biryani Cart, I guess it’s fine. Cuma kalo disuruh beli lagi sih gue males, kemahalan heheh.

Anyway, afterwards kita mulai pelan-pelan jalan ke Majestic Theatre where the show was going to be. Masuk ke sana harus melalui security check dan sampe di dalem isinya rame banget.

We spent 210 USD for a ticket to Phantom of the Opera. Seat was perfectly centered in the front mezzaine and I could see the entire stage and faces clearly.

063
Where the show at

064
The stage sebelum mulai
To be very honest, gue bukan penggemar musical. To be even more honest, gue cuma ngerti garis besar dari jalan ceritanya hahaha… tapi untuk orang awam yang clueless seperti gue, special effects dari shownya sih keren banget. Propertiesnya juga dan overall it was a cool experience to be sitting and watching musical at Broadway.

Setelah dari Broadway, gue dan Ilona naik subway untuk pertama kalinya menuju Hunters Point South/Long Island City di Queens. Itu adalah promenade di mana kita bisa ngeliat Manhattan Skyline dari sisi Mid-Manhattan.

Gue kaget banget pas pertama kali masuk subway station sebab di sana rame, PENGAP dan JOROK. Beda banget sama subway station Jerman apalagi Hong Kong dan Singapur gitu. Terus juga menurut gue arah-arahnya suka ngga jelas. Setelah beberapa kali naik subway, gue juga baru sadar ada yang namanya express dan yang biasa aja. Yang express ini nge-skip beberapa stasiun gitu untuk tujuan yang sama kayak normal, jadi lebih cepet.

137
New York subway, you seriously needs some make over
Sesampainya di promenade Hunters Point South, gue langsung cengo sama pemandangan di sana. Surga banget buat yang punya skyscraper obsession kayak gue sebab di situ pemandangan Manhattan skyline-nya stunningly beautiful. I just sat and stared and observed each building in peace.

084
Who wouldn’t stop and stare?
As I was admiring the view, I was also busy dreaming about what life would be like to be living there, di salah satu apartemen yang ngadep langsung ke Manhattan skyline. Hehehe… ngarep aja. Kita duduk-duduk di pinggiran sungai sampai matahari terbenam dan pemandangan saat dusk itu juga ngga kalah stunning.

076
Almost dusk

079
As the sun went down
Abis itu kira-kira jam 6an sore, kita naik kapal ferry seharga 6 USD untuk nyebrang balik ke Manhattan. Gue seneng dan puas banget sama pemandangan yang super duper bagus dan bikin susah move on ini.

Sekembalinya di Manhattan, Ilona dan gue jalan kaki menuju Xi’An Famous yang terkenal dengan Chinese lamian-nya. Secara itu restoran heboh banget di food blogs yang gue baca-baca, kita pun penasaran dan pengen tau kayak apa makanan di sana, dengan harapan bakminya bakal seenak bakmi Chinese ala-ala Indo.

083

I’m terribly, terribly sorry but it was one of the most aweful food I have had in my entire life! But the Chrysanthemum tea and one friendly Chinese dude who served us deserved an award.

We closed the day afterwards secara udah teler banget karena bangun dari jam 5 pagi. Balik ke hotel semua udah bersih dan rapi lagi, new supply of toilet papers and shower gels. Andai di Jerman hidup pun kayak gini huhuhu…

Anyways, that was all for day 2. Stay tuned for day 3!

-Feli-

NYC – Day 1

Growing up with MTV, American culture and Home Alone, sejak kecil gue selalu penasaran sama yang namanya New York. Rasanya pergi ke New York seengganya sekali seumur hidup adalah ziarah wajib buat anak yang gedenya diracunin pop culture kayak gue.

Kebetulan salah seorang temen gue Ilona, yang adalah dokter… hewan, juga sebelas dua belas sama gue. Setelah 5 tahun bermimpi, 1 tahun berencana dan 1 bulan bikin itinerary, akhirnya terbang juga gue dan dia tepatnya dari Frankfurt International Airport menuju JFK International Airport jam 11 siang tanggal 14 Oktober 2016.

Setibanya di bandara JFK, gue mulai inget sama film The Terminal. It’s an old airport, bukan yang wah seperti Changi atau baru kayak HKIA, but it’s decent. Bandara JFK lokasinya rada jauh, yaitu di ujung selatan Queens, salah satu dari 5 boroughs of New York City.

Hotel tempat kita tinggal namanya Pod 39, berlokasi di Manhattan. Ilona dan gue mutusin untuk naik taksi aja, secara praktis cuma 40 menit dan kita takut disemprot New Yorkers kalo derek-derek koper keluar masuk subway dari Queen sampe East Manhattan.

Anyway, dari JFK ke East Manhattan tepatnya hotel Pod 39 naik taksi di hari Jumat sore jam 14.30 ternyata memakan waktu lebih dari yang dijadwalkan gara-gara maceeeeeeet kayak orang gila. Mana supir taksinya bawa mobil njot-njotan, bikin mau muntah setelah 9 jam terbang.

JFK to East Manhattan (Hotel Pod 39): real journey time appx. 60 mins (traffic jam was nasty!), cost appx. 80 USD including about 15% tip

 

Begitu turun dari taksi, walau kepala keleyengan dan ban mobil taksi pengen gue muntahin, mendadak I felt a surge of excitement running through my veins. Ini New York, man!!! New York yang biasanya cuma gue lihat di TV dan film!

Ilona dan gue narik koper masuk ke dalam Pod 39 dan check in. Begitu kita buka pintu kamar kita… jreng jreng, kamarnya sih kurang kecil lagi dibanding sama dorm room gue pas kuliah :’)

room gallery image
Mini Bunk Pod berdasarkan website Pod 39 langsung

112
Mini Bunk Pod berdasarkan bidikan kamera Ilona si dokter hewan
Mini Bunk Pod ini harganya kira-kira 200 USD semalam (incl. tax) untuk kamar seluas 8 qm yang bisa dimuatin 2 orang. Jujur, kamar ini SEMPIT banget. Buka koper aja mesti gantian. JALAN aja mesti gantian! Tapi kamar mandinya lumayan spacious, sabun dan shampoo yang dikasih juga lumayan bonafide. Selain itu yang menurut gue bonafide untuk budget hotel adalah, ada TV untuk MASING-MASING ranjang sehingga kita puas ngeliat berita Donald dan Hillary yang pas itu udah deket pemilu. Selain TV ada juga brankas kecil buat nyimpan barang-barang berharga.

Kamarnya BERSIH dan baru banget! Setiap hari ada room service yang ngebersihin dan ngerapiin kamar kita. Dan yang paling gue suka dari tinggal di Pod 39 adalah LOKASINYA. Jalan kaki ke Grand Central Terminal cuma 5 menit. Di dekat situ banyak makanan mulai dari kios buat breakfast ngasal, proper typical American diner, bagel cafe yang enak banget, sampe drug store yang gedenya 2 lantai. Jalan kaki ke Bryant Park dan New York Public Library cuma 10 menit, sedangkan jalan kaki ke Times Square cuma 15 menit.

So overall, Pod 39 Hotel is very recommended: super clean, super neat, modern design, SUPERB LOCATION and I’m more than satisfied for 200 USD per room per night in the middle of Manhattan.

Abis mandi dan membersihkan kuman-kuman Jerman dari tubuh kita, Ilona dan gue keluar cari makan dan tujuan kita, sesuai rencana, adalah Shake Shack. Kita pesen 2 SmokeShack, which is a normal cheeseburger pake bacon, cherry pepper and Shake sauce dan 1 cheese fries. Untuk minumnya kita pesen 1 iced tea dan 1 milkshake black and white. Kita ngga tau gitu tadinya bahwa tap water di sana gratis, makanya pake acara pesen iced tea segala.

Sejujurnya, buat Ilona dan gue yang udah pernah ngerasain yang namanya burger Hans im Glück di Jerman, Shake Shack ini burgernya biasa banget. Super fatty, salty but wasn’t exactly rich in flavor. Milkshake was EXTREMELY sugary sweet sampe kita berdua ngga sanggup ngabisin.

009 - blog
Iced tea, black & white milkshake and cheese fries

111 - blog
SmokeShack and all the juicy fat
 

We spent 28 USD for our food in Shake Shack: 2 SmokeShack burgers, 1 cheese fries, 1 iced tea and 1 milkshake. Taste was average. Not bad, but we know better things in Germany.

Abis dari Shake Shack, gue dan Ilona jalan ke arah Times Square lewat Grand Central Terminal. They don’t call it grand for no reason. Rame banget, apalagi hari Jumat dan lagi rush hour dan ketika masuk ke sana, tiba-tiba gue keinget film Madagascar. Every corner of NYC seemed to remined me of the movies I’ve watched.

015 - blog
Grand Central Terminal from outside

011
They don’t call it grand for no reason
Lalu kita lanjut jalan-jalan di seputaran Times Square. Gila man, that’s the first sweet, sweet shock in NYC. Times Square is just like how the movies picture it: confusing, exciting, bright lights and is a pool of people of different faces. Terang banget! Semua lampu-lampu dan papan iklan nyalanya ngga kira-kira. Satu hal yang terlintas di kepala kita berdua: “Nih kalo orang Jerman komentarnya apa yah? Buang-buang listrik pasti!” Kekeke…

027
Welcome to Big Apple
Setelah bernorak-norak dan terbengong-bengong di Times Square, Ilona dan gue melanjutkan perjalanan melintasi Times Square, jalan kaki naik terus hingga ke daerah Rockefeller Center. Sempet ngelewatin toko-toko lucu seperti Disney Store, Hershey dan M&M. Dan juga ngelewatin Carnegie Hall. We walked long and far sekali pun udah lagi jetlag.

029
Pick your own color!

283
Radio City Hall, one of NYC’s landmarks

017
Skyscrapers of different heights

284
9PM and still bustling
Sambil jalan kita ngelewatin musisi jazz jalanan dan food trucks jualan halal rice yang kalo di Jerman barangkali kayak döner kebab ya. Wah, gila man, rasanya tipikal New York banget! Dan ketika gue tiba di Rockefeller Center, gue segera mencari fasade gedung yang selalu muncul di opening TV series 30 Rock. Ketika ketemu, sebagai penggemar 30 Rock, gue wajib mengabadikan spot yang dipilih menjadi stockshot opening dan tempat di mana Liz Lemon dan Jack Donaghy mondar-mandir.

039
30 Rockefeller Center and the ice skating rink

242
And 30 Rock’s music seeped into my brain when I faced this
Setelah puas muter-muter di Rockefeller Center yang sebetulnya sih gedung perkantoran. Ada beberapa toko barang mewah juga di sekitar sana dan sebuah gereja yang honestly gue lupa namanya karena *ahem* di Jerman udah banyak gereja kayak gitu hehehe. Bentar yah, Google dulu.

043
Ternyata namanya St. Patrick’s Cathedral
Dari Rockefeller Center, secara kita udah jetlag abis dan mulai teler, Ilona dan gue pulang ke Pod 39. Durasinya sekitar 30 menit, yaitu sekitar 11 blocks. Kita mutusin untuk jalan kaki sambil liat-liat gimana sih jalanan di New York kalo malem beserta gedung-gedung tingginya.

First day was totally interesting. As a skyscraper fan, it was definitely more than satisfying to be visiting New York and served with the eye-blinding bright lights and bustling streets.

10PM tucked in Pod 39’s clean sheets, Ilona and Feli, over and out.

-Feli-

Intro intro

Sejak jadi anak-anak rantau yang tinggal 16 ribu kilometer jauhnya dari tanah air, travelling tiba-tiba jadi salah satu hal yang sering wara-wiri dalam hidup kita. Mau ngunjungin temen? Harus travelling ke luar kota. Jenuh sama rutinitas? Travelling ke negara sekitar. Pengen nyobain yang baru? Travelling lintas benua.

Tapi dari semua jenis travelling yang pernah dan mau kita lakukan, selalu ada satu travelling yang kita tunggu-tunggu dan melekat di hati… pulang ke tanah air!

Semoga cerita-cerita di blog ini bisa bermanfaat dan jadi inspirasi buat lo suka, mau nyoba atau nyari info tempat-tempat buat dikunjungin.

So, hello from us and jalan yoks!